Thamrin Endeng Dinilai Tidak Layak Menjadi Pue To Kasiwa

0
3113

MAMUJU-LENSASULAWESI.COM-Setelah dikukuhkannya Putra Mahkota Kerajaan Mamuju dan dilantiknya sejumlah perangkat adat yang digelar di Rumah Adat Mamuju, kini menuai sorotan dari sejumlah organisasi pemerhati adat dan Keluarga Besar Pue Dollah.

Akriadi Pue Dollah yang mewakili keluarga besar Pue Dollah melayangkan kritik dan protes keras atas prosesi pengukuhan pelantikan sejumlah perangkat adat, diantaranya adalah pelantikan Thamrin Endeng sebagai Pue To Kasiwa, alasannya karena tidak memenuhi syarat untuk diangkat menjadi Pue To Kasiwa setelah ditinjau dari garis keturunan dan tingkat kebangsawanannya.

“Seharusnya Thamrin Endeng tau diri kalau dia tidak layak untuk menyandang gelar Pue To Kasiwa karena melihat dari garis keturunan dan tingkat kebangsawanannya yang tidak memenuhi,” kata Adi sapaan akrabnya, Jumat (14/07/17).

Lebih lanjut, Adi menyampaikan tentang aturan adat yang seharusnya ditegakkan, karena kini sudah tidak sesuai dengan aturan.

“Dalam penentuan perangkat adat dalam hal ini Pue To Kasiwa itu mempunyai aturan adat yang harus ditegakkan. Namun, melihat kondisi saat pengakatan perangkat adat, sudah sangat tidak sesuai dengan aturan yang sebenarnya,” tutur cucu Andi Aco Udung (Pue To Kasiwa pada masa Raja Jalaluddin Ammana Indah) itu.

Hal senada juga dilontarkan Ketua Komunitas Pemerhati Budaya dan Adat (KOMPERDAT) Manakarra, Haeruddin, juga ikut mengkritisi tentang pengangkatan Thamrin Endeng sebagai Pue To Kasiwa yang mengatakan bahwa dalam pengangkatan Gala’gar Pitu itu punya mekanisme tersendiri dan harus sesuai dengan aturan adat.

“Seharusnya, untuk masuk dalam Gala’gar Pitu harus dinilai dari garis keturunan dan kadar kebangsawanan seseorang. Dimana sesuai hasil kajian kami, masih banyak keturunan Pue To Kasiwa lain yang lebih layak untuk diangkat ketimbang Thamrin Endeng,” paparnya.

Ia juga menambahkan kondisi adat di Mamuju sudah sangat memperihatinkan karena cenderung dipolitisasi terlebih campur tangan pemerintah terhadap adat sudah terlalu jauh.

“Kami sebagai putra daerah asli Mamuju sangat menyayangkan kondisi tersebut, kami tak menginginkan ada pembodohan sejarah disini,” tegas Haeruddin.

@Am.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here